Bertemu Hewan Khas Australia

“Di kebun binatang ini, pengunjung dapat mengelus-elus Emu, Kanguru dan koala

Berlibur ke Australia dengan biaya murah ternyata bisa juga saya alami. Bersama suami, saya berangkat ke Negeri Kanguru pada pertengahan Juni lalu. Persiapannya hampir selama setahun. Jadi saya bisa menabung, menyiapkan visa, dan mencari info tempat wisata yang asyik dikunjungi. Saya sebut berbiaya murah karena maskapai penerbangan murah milik Asia membuka rute baru ke Melbourne. Mereka menawarkan tiket promosi nol rupiah. Sayangnya, tidak ada rute langsung dari Jakarta sehingga saya harus membeli promosi lainnya.

Saya mendapatkan tiket murah meriah Jakarta-Kuala Lumpur-Melbourne-Kuala Lumpur-Jakarta. Total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp 1,5 juta. Murah sekali, bukan? Tanggal keberangkatannya pun ajaib, nyaris satu tahun. Promosi ini ditawarkan karena pada bulan Juni-Juli di Australia sedang dingin-dinginnya. Jadi banyak warganya yang berkunjung ke negara-negara tropis. Informasi yang saya dapatkan di Internet menyebutkan bahwa obyek wisata yang wajib dikunjungi bila ke Australia adalah Sydney Opera dan Kebun Binatang Taronga. Tidaklah lengkap rasanya jika tidak berpose di depan Sydney Opera dan berjumpa dengan hewan-hewan khasnya. Jadi saya memasukkan dua obyek itu dalam daftar itenary.

Sampai juga saya pada hari keberangkatan. Kami menghabiskan seminggu pertama di Australia dalam kedinginan. Suhu di Melbourne saat itu berkisar 7-18 derajat Celsius. Saya menggigil sepanjang hari dari pagi hingga malam. Saya senang karena target kunjungan saya di kota ini akhirnya terlaksana. Di Melbourne, saya mencari info di Internet bagaimana mencapai Sydney. Ternyata, jika memakai bus, butuh waktu perjalanan selama 13 jam. Ongkosnya pun bervariasi, dari Aus$ 66 sampai Aus$ 80 tergantung operator dan fasilitas yang diberikan. Tapi ada maskapai penerbangan murah lokal berlogo macan yang menawarkan tiket dengan kisaran Aus$ 70-99. Iseng-iseng saya mengutak-atik tanggal keberangkatan dan tahu-tahu harga Aus$ 0 terpampang di layar monitor, dan langsung saja saya beli. Total biaya yang harus saya keluarkan sebesar Aus$ 28. Wah, untuk urusan tiket, sepertinya saya memang selalu selalu beruntung.

Seperti disebutkan di laman Wikipedia, kota terbesar di Australia itu merupakan kota termahal ke-66 di dunia. Maka, untuk menghemat biaya, saya menginap di Sydney City Hostel dan memilih kamar dormitory, yang berkapasitas untuk 10 orang yang digabung antara pria dan wanita. Tarifnya Aus$ 19 per orang per malam.Hostel ini berada di kawasan China Town, dekat sekali dengan Paddys Market dan City sehingga memudahkan mobilitas saya selama di sana. Ketika saya asyik membalik-balik brosur pariwisata yang tersedia di hostel, Merry, salah satu teman sekamar kami dari Irlandia, menanyakan tujuan kami datang ke Sydney. Saya pun menjawab dengan jawaban standar sambil senyam-senyum untuk mencairkan suasana, “Lagi liburan, melihat Sydney Opera dan berencana ke Taronga Zoo untuk berfoto dengan kanguru.” Merry pun dengan antusias menimpali jawaban saya dengan berbagi pengalamannya hari itu: mengunjungi salah satu kebun binatang di Sydney bersama sepupunya yang kuliah di Australia. Ia lalu menunjukkan

foto-foto dari kamera sakunya.

Ternyata kebun binatang yang dia tunjukkan bukanlah kebun binatang yang saya maksud, melainkan kebun binatang yang berada di pinggiran kota Sydney. Dia menyarankan, jika ingin melihat dan bermain bersama hewan khas Australia, sebaiknya mendatangi kebun binatang Featherdale Wildlife, yang baru saja ia kunjungi. Soalnya, kalau di Taronga Zoo, kebun binatangnya lebih mengarah kepada hewan internasional dan sulit untuk berinteraksi langsung dengan hewan-hewannya.

Tergiur melihat foto-foto Merry yang asyik bermain bersama kanguru, saya membujuk suami saya untuk mengubah daftar kunjungan menjadi ke Featherdale Wildlife. Kami mengunjungi Featherdale Wildlife pada hari kelima berada di Sydney. Untuk mencapainya tidaklah sulit. Dari Stasiun Centre, saya membeli tiket return ke Black Town seharga Aus$ 6,4. Setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan bus nomor 725 dengan harga tiket Aus$ 2. Bus berhenti tepat di depan kebun binatang. Hanya membutuhkan waktu kurang-lebih 40 menit perjalanan dari pusat kota Sydney.

Untuk masuk ke Featherdale Wildlife, pengunjung dikenai karcis seharga Aus$ 23.Tapi para pelajar dan pensiunan mendapatkan harga khusus yang jauh lebih murah. Tidak ada pembatasan apa pun untukbisa masuk ke kebun binatang ini. Rasa senang memenuhi hati saya karena bisa memotret kanguru, satwa khas Australia yang tersohor itu, dari dekat. Tapi tiba-tiba rasa bungah saya berubah menjadi panik ketika sekumpulan kanguru berlarian ke arah kami, para pengunjung. Saya dan beberapa pengunjung yang baru datang berteriak-teriak ketakutan, mengira ada kanguru yang lepas. Tapi suami saya malah tertawa melihat kejadian itu. Dia langsung menenangkan saya sambil menunjuk ke arah kandang kanguru yang pagarnya memang tinggi tapi tidak rapat. Wah… saya jadi malu, untungnya saya enggak malu sendirian.

Setelah mengamati sesaat, saya baru menyadari bahwa tempat ini dirancang dengan konsep kandang terbuka untuk beberapa binatang yang ramah dan bersahabat. Sementara itu, binatang-binatang lainnya yang lebih liar atau buas ditempatkan di kandang khusus. Tempat ini menyediakan beberapa area yang tiap area berisi kandang terbuka, seperti area untuk kanguru, emu, dan koala. Setiap area yang berisi kandang ini terhubung dengan jalan yang bisa dibuka-tutup oleh pengunjung. Tinggi pintunya kira-kira setengah meter dan mempunyai sistem menutup sendiri. Jadi binatang yang ada di dalam area tidak bisa masuk ke area lain walau, misalnya, pengunjung lupa menutup pintunya. Sementara itu, ada area dengan kandang-kandang lainnya yang berisi binatang buas, liar, atau galak dibuatkan kandang khusus, misalnya untuk buaya, tazmanian devil, dingo, wombat, dan ular. Selain itu, ada area berisi berbagai macam burung.

Setelah rasa kaget saya hilang, saya kembali asyik bermain bersama kanguru dan gerombolan burung emu yang kemudian datang tidak mau kalah berinteraksi dengan para pengunjung. Burung yang hampir setinggi saya itu hampir membuat saya ngeri karena besarnya. Tapi mereka lucu, dengan antengnya mereka mau difoto dan diusap-usap.

Berbeda dengan area hewan koala, saya mendapati sebagian besar koala sedang tidur di atas pohon yang berada di dalam pagar. Tetapi ada satu koala yang belum tidur dan berada di luar kandang sedang bertengger di atas sebatang pohon pendek. Para pengunjung bisa berinteraksi dengan hewan menggemaskan ini dengan diawasi oleh seorang pengawas. Mengapa kebanyakan koala itu senang berada di atas pohon, ya? Saya penasaran. “Apakah mereka tidak turun untuk mencari minum?” tanya saya kepada petugas yang mengawasi koala.“Koala sebenarnya minum air, tapi sangat jarang karena makanannya daun ekaliptus, yang sudah mengandung cukup air, sehingga tidak perlu turun dari pohon untuk minum,” ia menjelaskan. Karena itulah nama satwa ini koala, diambil dari bahasa pribumi Australia yangberarti tidak minum. Koala membutuhkan 18-20 jam sehari untuk istirahat tanpa bergerak alias tidur.“Hmmm… pantas saja banyak

koala yang lagi bobok.”

Saat berada di area ini, perhatian saya dan suami terfokus pada orang-orang yang antre untuk mendapatkan stempel. Dengan ramah saya bertanya kepada salah satu pengunjung yang asyik mencap brosurnya. Oooala, ternyata setiap pengunjung menandai tempat yang telah dikunjungi dengan cap bergambar satwa pada brosur yang diberikan di loket pembeli tiket itu. Wah, sambil tertawa, saya pun bersama suami kembali mundur ke area pertama untuk menstempel brosur milik kami. Luar biasa, hal-hal kecil seperti ini sampai dipikirkan oleh pengelolanya. Sepertinya ini suatu keunikan juga dari kebun binatang itu.

Selain koala, ada satu lagi binatang yang saya impikan dilihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, yakni tazmanian devil, yang selalu saya lihat di film-film kartun. Tidak seperti koala, tazmanian devil ditempatkan di sebuah kandang khusus yang tertutup, karena kalau tidak tertutup bisa kabur. Begitu sampai di areanya, ternyata terlihat kosong. Si tazmanian devil ternyata sedang bersembunyi di lubang pohon. Sepuluh, dua puluh menit, saya sabar menunggu, tapi ia belum mau keluar juga. Akhirnya saya memutuskan berkeliling dulu untuk melihat binatang khas lainnya, baru nanti kembali lagi.

Satwa yang saya kunjungi berikutnya adalah penguin, dingo, dan hewan reptil. Bahkan saya sempat ke bagian hewan ternak. Di sana, saya berjumpa dengan kalkun jantan besar yang sedang beraksi mengembangkan sayap dan ekornya. Itu untuk menarik perhatian kalkun betina. Perilaku ini berkaitan dengan musim kawin kalkun yang mengenakan baju dengan warnamencolok karena dianggap akan membahayakannya.

Lelah berkeliling, saya dan pengunjung lainnya, yang kebanyakan adalah keluarga beserta anak-anaknya, beristirahat. Saya membuka bekal makan siang yang kami bawa. Pihak pengelola menyediakan meja-meja taman di bawah pohon rindang. Sambil menyantap makan siang, kami bisa sekalian melihat berbagai jenis burung dan terhibur oleh kicauannya.

Setelah perut kenyang, saya kembali menuju kandang tazmanian devil. Di sana sudah banyak pengunjung yang asyik mengamati hewan pengerat berwarna hitam gelap yang sedang berputar-putar itu. Sepertinya dia sedang bermain-main. Tidak ingin kehilangan momen, saya langsung saja mengabadikannya. Ternyata hewan bernama Latin Sarcophilus harisii itu tak selucu seperti digambarkan di film kartun. Sedihnya lagi, hewan langka di dunia ini terancam punah akibat kanker wajah. Semoga para ilmuwan bisa menemukan terapi penyembuhnya sehingga hewan ini tetap eksis.

Tak terasa waktu lima jam sudah saya habiskan di kebun binatang ini. Untuk keluar dari area ini, saya melewati lorong yang dindingnya dipenuhi potongan artikel media cetak dari berbagai dunia yang mengulas Featherdale Wildlife. Di ujung pintu keluar ada toko suvenir yang menjual berbagai pernak-pernik kebun binatang ini. Ada juga mesin penjual koin khusus seharga Aus$ 2. Satu kejutan bagi saya ketika melihat plakat sertifikat di dinding pintu yang menyatakan bahwa Featherdale Wildlife pernah mendapat penghargaan sebagai tempat rekreasi terbaik di Australia pada 2005 dan 2009 oleh badan pariwisata setempat.

Koran Tempo Minggu, 15 Agustus 2010

About these ads