Berpetualang Memburu Emas di Soverign Hill

         
Sovereign Hill merupakan gambaran Kota Ballarat, Victoria, Australia. Pada 10 tahun pertama setelah emas ditemukan di sana pada 1851.

Berlibur dengan bujet murah susah-susah enak. Tapi di situlah asyiknya. Karena tidak memakai biro perjalanan, saya dan suami harus merancang sendiri tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Seperti pengalaman kami berlibur di Australia dengan tiket pesawat promosi akhir Juni lalu. Salah satu kota yang kami datangi adalah Melbourne.

Saya beruntung mempunyai sahabat yang sudah menetap di Negeri Kanguru selama tiga tahun, Dian Yustikarini. Setidaknya bisa bertanya-tanya kepadanya ke mana harus pergi. Dian menikah dengan pria Australia, Glen Alan Price. Saat kami bertandang ke kediaman mereka, ide menyambangi Sovereign Hill ini muncul. Awalnya tidak terlintas dibenak kami untuk berkunjung ke obyek wisata di kota kecil Ballarat, Negara Bagian Victoria, ini. Tapi promosi yang diumbar Dian menggoda saya. Penasaran saya bertambah begitu Dian menunjukkan foto-foto saat dia mengunjungi Sovereign Hill yang dipajangnya di dinding rumah.

“Ini obyek wisata yang legendaris sekaligus unik. Dan, kalau kamu beruntung, bisa membawa emas murni yang kamu dulang sendiri di sana,” ujar Dian menggebu-gebu. Walhasil, jadilah saya mengunjungi Sovereign Hill pada hari ketiga dari tujuh hari kami di Melbourne. Bukan hanya menyarankan, Dian dan suaminya dengan senang hati mengantarkan kami ke sana. Kami mulai perjalanan pada pukul 10 di hari Sabtu itu. Dari pusat kota Melbourne, perjalanan ke kota bersejarah Ballarat sejauh 105 kilometer itu memakan waktu 90 menit.

Selain dengan kendaraan pribadi melewati jalan tol Western Highway, Ballarat bisa dijangkau dengan kereta api dari Stasiun Melbourne ke Stasiun Ballarat. Dalam sehari ada empat kali pemberangkatan kereta dari Melbourne ke Ballarat dan sebaliknya. Dari stasiun kereta, tersedia bus yang langsung ke Sovereign Hill. Jadwal berangkatnya setiap 45 menit dan beroperasi mulai pukul 07.00 sampai 18.00.

Selama perjalanan, saya merasa lebih hangat. Maklum, sejak tiba di Melbourne, saya berjuang melawan hawa dingin. Suhu rata-rata di luar mencapai 7 derajat Celsius. Tidak ada kemacetan lalu lintas yang kami temui. Kami hanya mengikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke Ballarat. Lalu mengikuti petunjuk jalan warna cokelat dan putih ke Sovereign Hill sambil disuguhi pemandangan jejeran rumah penduduk bergaya khas ala Victorian dengan ukiran renda yang terbuat dari kayu.

Sovereign Hill merupakan tempat wisata berupa museum di alam terbuka. Dulu ia menjadi tempat penambangan emas saat Australia dilanda masa perburuan emas (gold rush) menjelang akhir abad ke-18. Sovereign Hill merupakan kota bekas tambang emas terkaya di dunia yang pernah ada.

Sovereign Hill merupakan gambaran Kota Ballarat pada 10 tahun pertama setelah emas ditemukan di sana pada 1851. Di kompleks seluas 25 hektare itu terdapat setidaknya 60 bangunan dan fasilitas bersejarah yang dibangun kembali sesuai dengan eranya. Setiap tempat rekreasi dilengkapi oleh para sukarelawan yang mengenakan pakaian dan atribut masa lalu. Bukan hanya itu, buku, koran, peralatan, dan mesin, bahkan binatang dan ternak, juga terlihat lazimnya pada era 1850-an.

Untuk masuk ke kompleks wisata yang menjadi salah satu atraksi paling populer di Victoria ini, pengunjung harus membayar tiket masuk Aus$ 41 per orang. Terima kasih kepada Dian dan Glen yang bermurah hati membelikan tiket untuk saya dan suami. Selain mendapatkan tiket masuk, saya diberi satu lembar tiket lainnya untuk mengunjungi Museum Emas, serta peta kota yang memudahkan para pengunjung mengeksplorasi tempat itu.

Begitu kaki melangkah masuk ke kota itu, saya langsung takjub ketika melihat area dan bangunan ala tempo dulu. Saya seperti baru saja keluar dari mesin waktu. Betapa tidak, pada saat berada di ruang pembelian tiket masih terasa interior masa kini, tapi begitu keluar serasa berada di kota penambangan emas seperti di film-film koboi.

Luar biasa, bangunan, jalan setapak, penunjuk jalan, semuanya menyerupai kota kecil abad ke-18. Dinding bangunannya terbuat dari kayu. Tidak hanya itu, jalanannya pun masih berupa jalanan berpasir dan ada beberapa genangan air sisa dari hujan tadi pagi. Saya harus rela melihat sepatu saya menjadi kotor akibat lumpur dari genangan tersebut. Segera saya mempelajari peta yang diberikan. Tempat pertama yang saya tuju adalah Red Hill Mine, lokasi tur tambang emas untuk mendapatkan gambaran informasi mengenai sejarah Sovereign Hill. Ada tur reguler yang jadwalnya dimulai pada pukul 10.00 dan diadakan tiap 2 jam sekali. Untuk mengikuti tur ini, pengunjung harus membayar Aus$ 7. Oalah… saya pikir sudah termasuk dalam harga tiket, ternyata tidak. Tur ini menyediakan pemandu, dan para pengunjung yang mengikuti tur ini naik kereta bawah tanah yang menuju lokasi gua tambang emas. Ada sekitar 20 orang, termasuk saya dan suami, yang mendaftar dan sudah tidak sabar untuk segera mengikuti tur.

Keunikan tur ini, saya terbawa ke dalam petualangan bawah tanah yang menceritakan bagaimana sejarah ditemukannya bongkahan emas kedua terbesar di dunia sebesar 69 kilogram di dalam tambang ini oleh para penambang asal Inggris (Cornish Miner). Pemandu tur kami bernama Ben. Dia mengenakan pakaian unik, yaitu kemeja dengan jas dan topi rajutan.Ben menjelaskan mengenai proses penggalian dan keselamatan para pemburu emas. Dia juga bercerita, bangsa yang paling sering menemukan emas adalah Cina. “Konon mereka menggunakan ilmu perbintangan yang mereka percayai. Ditambah tekad mereka yang pekerja keras,”ujar Ben.Wah, pantas saja di area perkemahan, tenda yang paling bagus dan lengkap adalah tendanya orang-orang Cina. Setelah 20 menit yang terasa pengap, tur itu berakhir dan kami bisa keluar untuk menghirup udara segar. Saya membayangkan betapa luar biasanya daya tahan para penambang yang seharian, bahkan sampai menginap di dalam tanah demi mendapatkan butiran emas.

Saya lalu melanjutkan rekreasi ini menuju tempat perajin tembaga atau kuningan tradisional. Di dalam bangunan ini terdapat banyak sekali suvenir bertulisan “Sovereign Hill”, dari piringan hingga hiasan kulkas. Cocok untuk oleholeh khas dari sini. Bahkan saya bisa melihat langsung pembuatan dan proses pencetakan tembaga dan kuningan yang dilakukan oleh para relawan. Dari sini, saya mampir ke sekolah yang terletak persis di sebelahnya. Ruangannya tidak terlalu luas, tapi di dalamnya terdapat perlengkapan belajar-mengajar masa 1850-an. Sudah ada beberapa pengunjung yang sedang asyik menulis. Di depan kelas, ada ibu guru. Dengan ramah ia mempersilakan saya masuk untuk bergabung dengan yang lain buat belajar menulis huruf sambung. Wah, ternyata gampang-gampang susah menulis dengan menggunakan tinta cair dan pena tajam dari besi. Kalau tidak hatihati, tintanya bisa belepotan mengotori kertas dan tangan. Di sekolah ini, pengunjung bisa membeli alat tulis seperti yang saya gunakan itu.

Setelah puas belajar, saya pun masuk ke gedung arena boling, melihat bagaimana cara bermain boling zaman dulu yang masih manual. Para pengunjung boleh bermain boling sepuasnya tanpa harus bayar. Syaratnya: harus merapikan kembali pin-pin boling seperti semula. Cukup adil, bukan? Banyaknya energi yang terkuras membuat saya lapar. Kami langsung mencari toko makanan. Akhirnya saya menemukan toko roti yang bernama The Hope Bakery di Main Street. Di dalamnya, mereka menjual berbagai makanan kue kering dan roti hangat yang baru saja selesai dipanggang menggunakan oven batu bata dengan menggunakan kayu bakar. Beraneka roti dan kue kering itu sungguh menggoda selera.

Kota Sovereign Hill juga memiliki gedung teater sebagai tempat hiburan di kota dan mengadakan pertunjukan rutin setiap hari dengan menampilkan teater jalanan, yang dilakukan oleh para relawan dan aktor Sovereign Hill. Saat itu saya menyempatkan diri menonton pertunjukannya yang berlangsung selama 30 menit, berkisah tentang tokoh Ned Kelly, yang merupakan pemburu emas yang difitnah oleh para penduduk. Cerita tentang Kelly adalah kisah nyata yang sudah dinovelkan dan difilmkan.

Main Street atau jalan raya utama Sovereign Hill sendiri terlihat selalu sibuk. Dipenuhi oleh hirukpikuk aktivitas keseharian orangorang. Ada polisi lengkap dengan senapannya mondar-mandir dari toko ke gedung yang lain, para karyawan yang bekerja di berbagai toko dan bisnis yang menjual barang-barang grosir. Juga tukang besi, pembuat lilin, perajin topi, hingga penjahit baju. Selain itu, ada para penduduk yang sedang berbincang-bincang di koridor jalan dan di rumah-rumah. Semua itu diperankan oleh para relawan. Tak ketinggalan pula kereta kuda dengan kusirnya yang setiap waktu sibuk berkeliling mengitari kota, menambah suasana zaman dulu menjadi lebih hidup. Para pengunjung juga diberi kesempatan menaiki kereta kuda dengan membayar Aus$ 10 untuk sekali keliling. Dan saya lebih memilih berfoto dengan para relawan yang menggunakan berbagai model baju sebagai kenang-kenangan.

Puas berfoto, saya pun menuju lokasi rekreasi utama: Red Hill Gully. Suhu dingin hari itu tidak membekukan semangat saya dan para pengunjung lain untuk bertualang memburu emas murni. Para pengunjung dapat mencari emas murni dengan menggunakan perlengkapan sederhana berupa panci dan sekop yang telah disediakan. Area ini diklaim masih mengandung emas murni. “Semoga saja pemburuan emas ini membawa hasil,”saya bergumam penuh harap. Ternyata mencari emas itu tidaklah semudah yang saya lihat

dan saya kira, karena membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang ekstra. Suhu udara yang mencapai 5 derajat Celsius begitu dinginnya sampai menusuk menembus jaket tebal saya hingga ke dalam kulit. Saya akhirnya menyerah dan segera bergegas meninggalkan lokasi penambangan mencari area yang lebih hangat. Target saya adalah gedung Museum Emas.

Di dalam Museum Emas ini, saya dapat melihat koleksi emas yang berupa berbagai macam bongkahan emas, ornamen yang terbuat dari emas, hingga emas yang berbentuk batangan dan koin. Ternyata tahun ini Sovereign Hill memasuki usia ke-40 (dibuka pada 29 November 1970). Kunjungan saya ke museum ini sekaligus mengakhiri kunjungan wisata saya di Sovereign Hill. Hari semakin petang. Sovereign Hill ditutup pukul 17.00. Pada musim dingin seperti saat itu, pukul 17.00 suasana sudah mulai gelap.

Koran Tempo Minggu, 28 Nov 2010