Lembayung Senja Kota Tua Bagan – Myanmar

Menikmati senja di antara lautan kuil, candi, dan pagoda yang dibangun beberapa abad yang lalu.

Yippy…, visa Myanmar (Burma) akhirnya sudah di tangan. Hampir saja saya gagal berangkat gara-gara pengurusan visa di Indonesia tercinta yang sulit dan sangat prosedural. Banyak persyaratan yang harus dilengkapi, seperti surat sponsor, keterangan bekerja, dan lain-lain. Belum lagi kemungkinan ditolak sangatlah besar. Saya, suami pun bertindak cepat dengan memilih alternatif membuat visa di negeri jiran, Malaysia.

menghanguskan tiket Kuala Lumpur-Rangoon yang sudah dibeli setahun lalu dengan harga promosi, sekitar Rp 300 ribu per orang. Kami sepakat mengundurkan dua hari jadwal keberangkatan dan membeli tiket baru Kuala Lumpur-Rangoon. Saya beruntung mendapatkan tiket dengan harga kortingan sebesar 25 persen. Saya mengeluarkan Rp 500 ribuan, sudah
termasuk pajak.

Untuk mendapatkan visa Myanmar,saya hanya diminta mengisi satu lembar formulir khusus turis serta memberikan dua lembar pasfoto ukuran 4 x 6, fotokopi paspor, dan tiket. Lalu menyerahkannya di loket dan membayar 150 ringgit Malaysia untuk biaya proses ekspres (dua hari kelar), sedangkan untuk proses normalnya lima hari dengan biaya 80 ringgit. Karena sudah tidak sabar dan ingin cepat-cepat bertualang di Myanmar, saya dan suami mengambil visa Ekpres.

Memang pergi ke Myanmar sudah menjadi impian saya dari dulu. Tertutupnya negeri itu membuat saya penasaran. Menurut informasi yang saya cari di Internet, Myanmar adalah negeri yang dipenuhi oleh pagoda, candi, dan kuil, yang tersebar hampir di seluruh negeri. Setiap pagoda atau atap stupa kebanyakan dilapisi lembaran emas, sehingga tak mengherankan jika negeri itu dijuluki Golden Land.

Liburan saya kali ini cukup menantang dan berkesan. Soalnya saya sedang dalam kondisi mengandung anak pertama, yang berusia 6 bulan. Kalau tidak sekarang pergi ke Myanmar,kesempatan saya mengunjungi negeri itu pasti akan tertunda lama, karena setelah melahirkan pasti saya akan sibuk mengurus anak. Karena itu, saya memutuskan tetap berangkat bertualang di negara yang dulu bernama Burma tersebut.

Setelah kami duduk selama tiga jam di dalam kabin pesawat pada 13 Januari lalu, akhirnya pramugari mengumumkan bahwa beberapa saat lagi kami akan mendarat di Bandar Udara Internasional Rangoon.Waktu setempat saat itu pukul 17.50. Saya mengecek jam dan meyakinkan diri dengan bertanya kepada suami yang duduk di samping, “Gak salah nih perbedaan waktunya dengan di Jakarta cuma 20 menit lebih awal?” Suami saya pun mengecek World Time untuk  Myanmar yang terpampang di layar iPod-nya. Sambil mengerutkan dahi, ia menjawab, “Iya, benar. Mungkin Myanmar terletak di lengkungan garis lintang bumi, jadi bedanya hanya hitungan menit.”

Begitu mendarat, kami bergegas antre pemeriksaan keimigrasian. Saya sempat linglung dan heran melihat petugas imigrasi yang memakai sarung “Ini mau kerja atau ngeronda, sih?” pikir saya dalam hati. Tapi ternyata semua petugas
bandara memakai sarung! Oalah… ternyata tradisi di Myanmar masih kental. Mereka menggunakan pakaian tradisional, yang disebut longji. Saya terkagum-kagum.

Keluar dari bandara, nama kami terpampang di kertas yang dipegang seorang pemuda berkemeja putih dan memakai longji. Pemuda itu adalah karyawan Motherland Inn 2, guest house yang kami pesan sebelum berangkat untuk  menjemput. Setelah semua tamu berkumpul, kami naik ke mobil jemputan, bus tua yang memakai setir kiri karena jalanan di Myanmar memakai jalur jalan sebelah kanan.

Berada di dalam bus itu, saya baru menyadari bahwa kami berdua sajalah yang berasal dari Asia. Sisanya, 12 orang, adalah bule. Di sepanjang perjalanan, saya melihat mobil-mobil tua berseliweran di Kota Rangoon. Jarang sekali terlihat mobil keluaran baru. Seolah saya berada di daerah terpencil, mungkin seperti Jakarta pada era 1970-an. Jalanan tidak terlalu padat.

Daerah yang menjadi tujuan saya dan suami adalah Bagan, kota tua yang memiliki banyak peninggalan sejarah Kerajaan Bagan atau Kerajaan Pagan. Saya pun mencari cara menuju kota itu. Sambil bertanya, saya menukarkan uang dolar Amerika Serikatke mata uang setempat, kyat. Sialan, ternyata nilai tukar kyat sedang menguat terhadap dolar. Padahal, per Desember 2010, 1 dolar Amerika setara dengan 1.000 kyat. Tapi, pada Januari 2011, 1 dolar hanya 800 kyat.

Semoga uang dolar yang saya bawa cukup untuk memenuhi keperluan hidup selama 9 hari di Myanmar. Pasalnya, di  Myanmar tidak ada mesin anjungan tunai mandiri yang bisa digunakan untuk mengambil uang.Valuta asing yang berlaku dan hanya bisa ditukarkan adalah dolar Amerika. Sepertinya pada liburan kali ini saya tidak bisa membeli banyak oleh-oleh, akibat dampak ekonomi dan keterbatasan dana yang saya bawa.

Kami menginap semalam di Rangoon. Tarif guest house yang kami sewa seharga US$ 18. Kamarnya cukup nyaman dengan tempat tidur dobel, penyejuk udara (AC), dan shower di dalam. Dari Rangoon ke Bagan bisa ditempuh dengan bus. Awalnya kami ingin menggunakan bus ekonomi, sayangnya hanya ada untuk perjalanan pada siang hari.

Kami pun memutuskan memakai bus malam dengan harga tiket sedikit lebih mahal, yakni 1.800 kyat. Kami sengaja  mengambil jadwal keberangkatan yang paling akhir agar nanti tiba di Bagan tepat pada pagi hari. Lagi pula perjalanan
malam bisa menghemat dana untuk membayar tempat menginap.

Lama perjalanan yang ditempuh sekitar 11 jam. Bus ekspres malam hari kondisinya jauh lebih nyaman, ber-AC. Kami juga mendapat satu botol air mineral, tisu basah, sikat gigi, dan odol kecil. Bus berangkat pukul 17.00. Selama perjalanan, bus berhenti dua kali di rumah makan untuk memberi kesempatan kepada penumpang beristirahat, makan malam, pergi ke kamar kecil, atau hanya meluruskan kaki.

Jalanan yang kami lalui mulus dan bagus karena berupa jalan tol, yang rupanya baru saja selesai dibangun. Bus tiba di Terminal Nyaung Oo, Kota Bagan, tepat pukul 04.00. Udara dingin langsung menyambar ketika saya turun dari bus. Ada beberapa orang, yang sepertinya calo taksi, mengerubungi kami untuk menawarkan jasa. Untung saja saya sudah  memesan penginapan sebelum kami berangkat dan meminta untuk dijemput.

Namun ada satu calo taksi yang nakal. Ia memaksa dan memanipulasi informasi bahwa jemputan dari hostel tidak bisa datang. Dengan cuek saya langsung menghampiri sopir hostel yang sedang sibuk mengangkut tas ransel dua bule dari Prancis. Saya tegaskan kepadanya bahwa saya sudah memesan kamar hari ini dan memaksanya untuk mengangkut kami.
Akhirnya kami pun diangkut dan terbebas dari kerumunan para calo taksi jail.

Esok paginya, saya berjalan menjelajahi daerah sekitar hostel, melihat hiruk-pikuk keramaian sambil menyurvei biaya transpor untuk menuju Kota Tua Bagan. Bagan terbagi menjadi tiga zona. Zona yang pertama adalah Nyang-U, yang merupakan pusatnya para turis. Di sini banyak hotel, rumah makan, kafe, dan penyewaan kendaraan. Hostel saya, New Park Bagan Hotel, termasuk di dalam zona pertama ini.

atau Kota Tua Bagan, yang memiliki banyak peninggalan pagoda dan kuil. Tempat itu merupakan tujuan wisata para turis dan merupakan tujuan utama saya. Zona terakhir adalah New Bagan, yang sudah banyak bangunan modern dan memang tidak diperuntukkan bagi wisata karena hanya ada permukiman penduduk.

Di sepanjang jalan, saya bertemu dengan beberapa turis yang lebih tertarik menyewa sepeda untuk menjelajahi Kota Tua Bagan. Dengan mengeluarkan dana 800 kyat sudah bisa mengayuh sepeda seharian. Karena sedang hamil dan tidak tahu medan, saya memutuskan berbagi biaya dengan teman seperjalanan untuk menyewa kereta kuda setengah hari dengan
tarif 9.000 kyat.

Sasaran kami adalah menikmati pemandangan matahari terbenam di antara lautan pagoda, yang dibangun beberapa abad yang lalu. Soalnya sore itu langit terlihat cerah dan matahari pasti bagus saat tenggelam nanti. Saking banyaknya
pagoda, saya sampai bingung mana pagoda yang terkenal. Saya hanya mengandalkan si abang kusir yang mengantar kami dari pagoda satu ke pagoda yang lain.

Obyek pertama yang saya kunjungi adalah Candi Htilomino, yang berada di luar kompleks Old Bagan. Kompleks Old Bagan adalah semacam area yang dikelilingi benteng. Tapi benteng itu kini tinggal puing-puingnya saja. Di dalam kompleks itu terdapat candi dan kuil, di antaranya Kuil Ananda Phaya, yang dianggap paling suci; Candi Thatbyinnyu, yang merupakan candi tertinggi; dan Candi Gawdawpalin, yang menjadi salah satu tempat peribadatan terbesar di Bagan.

Oh ya, saya juga belajar membedakan antara candi, kuil, dan pagoda. Kuil di dalamnya ada lorong (buat pedagang) dan ada ruang (biasanya berisi patung Buddha untuk berdoa). Sementara itu, candi adalah bangunan yang biasanya tidak ada ruang untuk berdoa, jadi hanya sebuah bangunan. Sedangkan pagoda adalah bangunan seperti candi tapi memiliki stupa,
yang biasanya dilapisi emas. Ada juga situs yang memiliki gabungan candi dan kuil.

Satu lagi, ternyata yang membedakan satu pagoda yang dianggap sakral dengan yang tidak adalah banyaknya penduduk yang berjualan di depan halaman pagoda. Yang mereka jual adalah sesajen berupa rangkaian bunga dan cendera mata untuk wisatawan. Tidak mengherankan jika kita akan dikerubuti para pedagang itu ketika akan memasuki pagoda.

Lelah mengelilingi bagian dalam pagoda, saya pun beristirahat duduk di pinggir pagoda sambil mengamati turis lain yang datang berkunjung. Tiba-tiba beberapa anak perempuan baru gede dengan memakai thanaka—bedak khas Myanmar alias bedak dinginnya mamak-mamak zaman dulu— menghampiri.

Paras wajah penduduk Myanmar tidaklah jauh berbeda dengan orang Indonesia. Mereka mengajak saya berbicara dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Tak lama mereka menyadari bahwa saya adalah turis. Akhirnya mereka berbicara dengan bahasa Inggris yang tidak begitu jelas.

 “Berapa umur kamu?” ujar salah satu anak kepada saya. Saya menjawab umur saya 27 tahun, sambil menggerakkan jari-jari membentuk angka 2 dan 7. Mereka pun mengangguk dan tertawa, lalu merespons dengan mengajari saya  penyebutan angka 27 dalam bahasa Myanmar, “Hna s’eh kuhna.” Kami belajar menghitung 1-10. Mereka mengajari saya bacaan angka Myanmar, sedangkan saya mengajari mereka dalam bahasa Indonesia. Cukup adil!

Ketika saya ingin meninggalkan pagoda, tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri. Dia menyodorkan tangannya dan berbicara dalam bahasa Myanmar. Saya menduga ia meminta uang dengan memaksa. Melihat hal itu, anak-anak perempuan tersebut langsung berteriak. Saya hanya bisa menangkap satu kata dari teriakan mereka,“Indonesia!”Anak laki-laki itu pun menjauh dengan wajah pucat. Saya langsung teringat peraturan di Myanmar yang memberlakukan

hukuman mati bagi warganya yang menganiaya turis.

Menjelang petang, perjalanan saya diakhiri dengan mengunjungi tempat yang paling sering dijadikan lokasi strategis untuk melihat matahari terbenam, yakni di Pagoda Shwesandaw Phaya.Untuk melihat sunset terbaik adalah dari atas pagoda. Saya harus naik tangga yang tinggi dan curam, berebutan dengan turis lainnya.

Ternyata di sana sudah banyak turis yang menunggu momen tersebut. Sambil menunggu sunset, saya berkeliling di bawah pagoda: melihat bangunan panjang persis di depan pagoda. Sayangnya, tidak ada satu pun orang berminat ke
tempat tersebut. Saya jadi ragu untuk masuk ke dalam, tapi tak lama ada beberapa biksu yang keluar dari bangunan itu, yang membuat saya tambah penasaran.

Saya pun masuk ke dalam dan kaget. Ternyata di dalamnya ada patung Buddha yang sedang tidur dalam ukuran super jumbo! Patung itu sebesar bangunan tersebut. Sayangnya, tidak ada orang yang tahu atau memang tidak menyadari.
Sebab, mereka memilih menunggu sunset.

Di ketinggian pelataran pagoda, pandangan saya luas. Di bawah cakrawala, terlihat lautan kuil, candi, dan pagoda.  Setidaknya ada puluhan yang tersebar dan menyembul di antara rimbun pepohonan. Perlahan matahari pun tenggelam diiringi suara suitan dan tepuk tangan dari para turis, yang mengabadikan momen terindah di Kota Tua Bagan itu. Senja itu semuanya bernuansa lembayung.

Sunset yang indah itu berakhir pukul 18.00. Berangsur-angsur pengunjung membubarkan diri. Saya pun meninggalkan tempat itu dengan kenangan indah sambil berbisik dalam hati: akan kembali lagi ke kota tua tersebut setelah anak saya lahir nanti.

Koran Tempo, 20 Februari 2011

Koran Tempo