Jejak “Flinstone” di Gunung Padang

Kalau Inggris punya Stonehenge, Peru punya Machu Picchu, Indonesia pun memiliki situs prasejarah megalitik terbesar di Asia Tenggara, situs megalitikum Gunung Padang.

Walaupun namanya Gunung Padang, namun tempat ini bukanlah sebuah gunung, hanya sebuah bukit kecil di Cianjur, Jawa Barat. Kata Padang bukan merujuk pada suatu tempat, melainkan berasal dari beberapa suku kata, yaitu: Pa = Tempat, Da = Besar/agung/raya dan Hyang = Leluhur agung. Jadi arti kata Padang adalah tempat para leluhur agung atau tempat agung para leluhur.

Terletak di Kampung Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Luas komplek bangunan situs ini kurang lebih 900 meter persegi dengan luas area sekitar 3 hektare. Tak heran bila situs ini disebut-sebut sebagai situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Konon, usia situs ini jauh lebih tua dari Candi Borobudur. Diperkirakan situs ini dibangun pada 2000 SM. Untuk melihat situs ini dari dekat, beberapa waktu lalu saya dan teman-teman melakukan perjalanan ke tempat menarik ini.

Stasiun Lampegan

Perjalanan menuju tempat tersebut tidak saya rencanakan sendiri, tetapi mengikuti trip yang di adakan sebuah komunitas jalan-jalan di Jakarta. Pukul 6 pagi saya sudah tiba di kawasan Semanggi yang merupakan tempat titik temu perjalanan kali ini, terlihat dua sahabat saya sudah sampai terlebih dahulu yang menjadikan mereka peserta pertama tiba. Udara dingin pagi Jakarta turut menemani kami menunggu beberapa pesera lain yang belum datang untuk mengikuti trip Situs Megalitikum dan Curug Cikondang akhir pekan awal Desember lalu. Dan tepat pukul 7 mini bus kami akhirnya meluncur menuju kota Cianjur.

Selama ini saya hanya sering mendengar suku kata “Situs Megalitikum” hanya dari pelajaran sejarah dan geografi saja, sambil mengingat-ingat makna “Megalitikum” saya pun mencari informasi jauh lebih dalam melalui laman-laman yang ada di internet. “Kebudayaan Megalitikum bukanlah
suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolitikum dan berkembang pesat pada zaman logam, megalit adalah batu besar yang digunakan untuk membangun struktur atau monument” (sumber-Wikipedia). Jadi penasaran ingin melihat situs megalitikum secara langsung, kira-kira seperti apa yah situsnya? Apakah sama seperti situs megalitikum Stonehenge yang ada di Inggris atau seperti Machu Picchu dari kerajaan Inca yang ada di Peru? Pingin rasanya saya cepat-cepat sampai di tempat tujuan untuk menjawab rasa penasaran saya.

Beruntung perjalanan ini tidak terlalu lama. Dalam waktu kurang lebih 4 jam perjalanan menembus padatnya jalan raya utama puncak yang selalu ramai diakhir pekan, mini bus yang kami tumpangi akhirnya berhenti di Stasiun Kereta tua Lampegan. Stasiun Lampegan merupakan singgahan pertama trip hari itu, kami diberi waktu 60 menit untuk berkeliling dan berfoto-foto. Stasiun Lampengan dibangun pada tahun 1879 hingga 1882, jalur ini baru dioperasikan pada 10 Mei 1883, dan merupakan jalur terua kereta api Cianjur-Padalarang-Bandung yang dioprasikan sejak tahun 1884. Terowongan stasiun Lampegan ini sempat hancur akibat longsor, dikarenakan hujan besar yang turun di daerah itu. Namun pada tahun 2010 stasiun, rel dan terowongan ini sudah direnovasi. Dan Itu terlihat dari bentuk fisiknya yang masih bersih serta baru.

Setelah cukup puas mengabadikan gambar, saya pun bergegas kembali  bergabung dengan peserta lain dan bersiap menuju gunung Padang yang berjarak kurang lebih 8 km dari stasiun Lampengan. Walau tempat ini menjadi salah satu tempat yang bernilai sejarah, tetapi sarana jalan menuju tempat ini sangatlah parah. Kondisi jalan bukan berupa aspal hotmix yang nyaman dilalui
tetapi jalanan berupa jalan berbatu dan tanah yang membuat para penumpang harus waspada ketika kendaraan melalui jalanan berlubang, karena guncangan yang keras bisa membuat badan melayang dan perut terasa dikocok-kocok.

 

Tempat Pemujaan

Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum, ini dilihat dari bentuk bangunan punden berundaknya mencerminkan tradisi megalitik (mega berarti besar dan litik atau lithos artinya batu). Seperti banyak dijumpai di beberapa daerah di Jawa Barat fungsi situs megalitikum gunung padang ini diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.

Di kalangan masyarakat setempat, situs tersebut dipercaya sebagai bukti upaya Prabu Siliwangi membangun istana dalam semalam. Dimana ia dibantu oleh pasukannya berusaha mengumpulkan balok-balok batu yang hanya terdapat di daerah itu. Namun sayang, malam rupanya lebih cepat berlalu. Sang fajar sudah sampai diujung cakrawala dan telah menggagalkan usaha keras Prabu Siliwangi, maka derah itu kemudian ia tinggalkan. Batu-batunya pun ia biarkan berserakan di atas bukit yang kini dinamakan Gunung Padang.

Karena tempatnya yang terletak di atas bukit, kami pun harus menaiki tangga curam dan tinggi terbuat dari tiang-tiang batuan andesit yang sudah direkonstruksi sebanyak hampir 400 anak tangga. Konon katanya tangga ini disusun oleh penduduk pada zaman prasejarah untuk beribadah ke puncak bukitnya.

Satu persatu anak tangga saya daki dengan sekuat tenaga,tentu saja ini sangat melelahkan, membuat dada saya sesak dan bikin kaki cenat-cenut. Tetapi semua kelelahan itu terbayar dengan pemandangan alam yang menakjubkan dari atas bukit, sejauh mata memandang melihat hamparan indahnya ibu pertiwi dan bangunan situs megalitikum itu sendiri. Saya yang kelelahan langsung beristirahat sejenak, mengatur nafas mengumpulkan tenaga sabil duduk duduk diatas hijaunya hamparan rumput.

 

Punden Berundak

Puas memandangi alam dan menunggu teman-teman semua tiba diatas saya pun langsung mengeksplorasi situs megalitikum tersebut, sudah tidak tahan untuk mendapatkan penjelasan lebih dalam mengenai situs ini dari pemandu setempat. “Punden berundak Gunung Padang, dibangun dengan batuan vulkanik masif yang berbentuk persegi panjang, Batu-batu ini terlihat tidak biasa karena susunannya yang menyerupai ruangan-ruangan, bangunannya terdiri dari lima teras dengan ukuran berbeda-beda. Batu-batu itu sama sekali belum mengalami sentuhan tangan manusia dalam arti, belum dikerjakan atau dibentuk oleh tangan manusia” tutur Kang Heri pemandu wisata kami dalam trip itu.

Ia juga menambahkan bahwa “Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan. “Yang menarik dari situs megalitik Gunung Padang ini adalah adanya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik ”, lanjutnya. Dengan seketika saya mengambil batu basal kecil untuk dipukul-pukulkan ke alat musik batu yang di tunjukan.

Batu menhir ini mengingatkan saya pada tokoh keluarga Fred dalam film kartun “The Flinstone”,membayangkan bagaimana salah satu tokonya yaitu Mr. Fred menggunakan batu untuk memainkanalat musik. “Nah kalau ini batu tapak harimau” tunjuk kang Heri kearah salah satu batu, membuyarkan lamunan saya. Setelah saya lihat, ternyata batu tersebut memiliki cerukan yang menyerupai bentuk telapak kaki harimau berukuran besar, “Hmmm jaman dulu harimaunya besar sekali yah? “ guman saya dalam hati.

Curug Cikondang

Setelah lelah mengelilingi kompleks megalitikum, akhirnya kami kembali turun ke kaki gunung padang. Tapi kali ini melewati jalan berbeda. Meskipun sedikit lebih jauh, setidaknya kami bisa merasakan perbedaan melewati bebatuan yang alami dibuat oleh alam dengan kemiringan yang cukup tajam pada saat naik dan dibandingkan dengan undakan anak tangga buatan dari semen dengan kemiringan yang lebih landai disaat turun.

Kemudian kami menuju Curug Cikondang sebagai tempat tujuan selanjutnya, jalan menuju curug ini cukup jauh. Selain itu, jalannya juga tidak kalah rusak dibandingkan jalan menuju Gunung Padang. Saya hanya bisa berdo’a agar segera sampai ke tempat tujuan.

Dari parkiran kami berlanjut menapaki jalan setapak melewati track bebatuan dan tanah merah, hanya sekitar 10 menit akhirnya saya bisa sampai ke Curug. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 50 m ini terbentuk karena tumpahan air sungai yang jatuh melalui batu tebing besar, deru air yang tumpah sangat indah. Curug ini terletak berdampingan diantara hamparan perkebunan teh PTP VIII Panyairan dan undakan sawah yang menghijau, pemandangannya sungguh menyejukan. Memandangan dan cipratan titik air curug  mengembaikan semangat saya yang hilang setelah mendaki Gunung Padang tadi, dengan riangnya saya menikmati dinginnya air.

Para peserta trip pun langsung berbaur disekitar curug, ada yang tidak sabar langsung merendamkan kaki didalam segarnya aliran air dan ada juga yang sibuk dengan kameranya masing masing. Tidak kalah dengan yang lain, saya pun sibuk mengabadikan Curug Cikondang. Berhubung saya baru pemula belajar photografi, curug ini sangat tepat untuk saya jadikan objek belajar. Dengan mengutak-atik speed dan diagframa, akhirnya saya puas bisa mendapatkan hasil gambar yang sesuai dengan hasil jepretan saya.

Tak terasa waktu kami dalam trip sehari ini sudah berakhir, matahari sudah mulai tidak terlihat dan kami harus mengejar waktu untuk kembali kedalam hiruk pikuk kota metropolitan. Hamparan bergelombang bukit-bukit hijau perkebunan teh mengantarkan perjalanan kepulangan kami sore itu, sungguh sebuah perjalanan sehari yang sangat berkesan. Dengan biaya yang pas dengan kantong, saya bisa menikmati tempat-tempat yang menakjubkan tersebut.

 CHIC 109. 22 Feb – 3 Mar 2012