Jejak Grilyawan Vietcong

Menelusuri terowongan legendaris, tempat para pejuang Vietnam bersembunyi dan mengatur strategi perang melawan tentara Amerika.

salah satu lubang chu chi

salah satu lubang chu chi

Di perut bumi Vietnam, saya mengendap-endap menuju lubang berusaha keluar dari terowongan. Meski tubuh saya mungil tinggi 150 cm dan berat sekitar 43kg, terowongan bawah tanah setinggi 90 cm itu tetap saja terasa sangat sempit. walhasil , jarak sekitar 10 meter yang saya tempuh terasa begitu berat dan panjang.

saat itu ingatan saya langsung melayang ke perang Vietnam yang berkecamuk dari 1960-an hingga 197o-an. Boleh dibilang betapa hebatnya para pejuang Vietnam atau grilyawan Vietkong, yang mampu bertahan dan melakukan perang gerilya melawan tentara Amerika dan sekutunya dari terowongan yang kini dikenal sebagai Cu Chi Tunnel itu.

Berjarak sekitar 45 km barat laut kota Ho Chi Minh atau dulu lebih dikenal bernama Saigon. Sebetulnya Cu Chi Tunnel dapat di tempuh dengan menggunakan bus umum dari terminal Benh than market  selama kira-kira 2 jam.  Tapi karena kendala bahasa dan bus banyak berhenti manaik turunkan penumpang, para turis enggan menggunakan jasa transportasi ini.

Para turis lebih memilih paket tur yang ditawarkan   banyak agen perjalanan di kawasan distrik 1 Ho Chi Minh City. Paket ini ditawarkan beragam, dari yang murah dengan bus berkapasitas 40 penumpang hingga minivan mewah. harga tur mulai USD 7 (sekitar 70 rinu) sampai USD 30 (Rp.300 ribu) tergantung moda transportasi dan fasilitas yang diberikan. Pilihan waktu tur-nya juga bervariasi, ada yang setengah hari dan hanya mengunjungi Cu Chi Tunnel, atau ada juga yang seharian penuh dari pagi hingga petang, bertandang ke terowongan itu dan kuil Cao Dai.

saya memilih paket tur seharian penuh, kebetulan saya memang berminat untuk berwisata sejarah dengan mengunjungi Cu Chi Tunnel, saya juga berniat menyaksikan prosesi upacara keagamaan di kuil Cao Dai. Pagi pada pengunjung February lalu saya meluncur menggunakan bus berpenumpang 40 orang. Meski padat, para penumpang duduk di jok dengan kombinasi dua-dua. layanan yang diberikan hanya minuman ringan. untuk makanan ringan dan makan siang dibebankan kepada penumpang.

Bus meluncur diatas jalan beraspal mulus, menurut pemandu wisata perjalanan kami akan dimulai dengan mengunjungi kuil Cao Dai terlebih dahulu. Dalam perjalanan menuju kuil itu, kami sempat mampir di sebuah pabrik di sentra industri kerajinan berupa souvenir. Barang-barang cendra mata aneka ukiran kayu, lukisan dan  kerajinan seni lainnya yang diproduksi oleh pabrik yang pekerjanya kebanyakan tubuhnya cacat.

Sekitar satu jam berselang, perjalanan dilanjutkan ke kuil Cao Dai. Cuaca sangat cerah menemani kami menuju Kuil yang mengadakan upacara keagamaan yang cukup berbeda. Cao Dai adalah kuil dimana tempat sembahyang umatnya yang merupakan agama gabungan dari banyak agama utama dunia. Upacara yang digelar tepat pukul 12.00 berlangsung singkat. Untungnya, saya dan rombongan turis lain bisa datang lebih awal. Sehingga kami tidak ketinggalan momen detik-detik prosesi itu berlangsung.

Tank sisa perangDari Kuil Cao Dai, kami tak langsung meluncur ke Cu Chi Tunnel, bus yang membawa kami mampir ke sebuah rumah makan. Saat itu memang sudah jam-nya makan siang, kami makan dengan menu khas lokal. ya, kami harus mengisi perut sebelum menjajal masuk terowongan, yang boleh dikata akan menguras banyak energi.

Cu Chi Tunnel merupakan jaringan terowongan bawah tanah yang digunakan gerilyawan Vietkong sebagai tempat bersembunyi dan mengatur strategi perang melawan tentara Amerika pada tahun 1960-an hingga 1970-an. Terowongan panjang sekitar 220 km itu memiliki banyak cabang yang menghubungkan ke tempat persembunyian bawah tanah , tempat penampungan dan pintu masuk terowongan lainnya. Tapi saat ini terowongan yang diaktifkan hanya sekitar 120 km.

Terowongan bawah tanah itu terdiri atas beberapa tingkat kedalaman. Pertama, teowongan dengan kedalaman 3 meter dibawah tanah. Dalam terowongan ini terdapat bunker-bunker yang mempunyai fungsi masing-masing, yaitu bunker ruang pertemuan, rumah sakit, kamar tidur, gudang senapan, dan dapure. kedua, terowongan dengan kedalaman 6 meter dibawah tanah, yang merupakan tempat pelarian dan pintu keluar- biasanya berujung di tepi sungai.

di dalam terowonganMeski dibuat dengan peralatan seadanya, sekop dan kadang hanya tangan, sistem terowongan itu menunjukan kematangan perencanaan dan perhitungan yang akurat. Lebar terowongan hanya 90 cm, begitu juga dengan tingginya. dengan ukuran itu, hanya para gerilyawan Vietkong yang bertubuh kecil yang bisa memasuki terowongan tersebut dan dengan mudah menyusurinya untuk menyelamatkan diri. Adapun tentara Amerika yang rata-rata bertumbuh tinggi dan besar akan sangat kesulitan memasuki terowongan tersebut.

Selain menjadi pusat gerilya para pejuang Vietnam, teroeongan itu berfungsi sebagai jalur komunikasi, pasokan senjata, rumah sakit, pasokan makanan dan tempat tinggal. Meski hidup didalam terowongan sangat sulit karena, udara, air dan pasokan makanan sangat minim. mereka tetap bertahan dan berjuang untuk mencapai keberhasilan- memenangi peperangan dan meraih kemerdekaan.

Kini, setelah perang usai dan kehidupan sudah normal, tempat ini menjadi objek wisata yang paling populer. Para pengunjung diajak merasakan merangkak di dalam terowongan yang sudah dikondisikan, bahkan beberapa terowongan dibuat lebih besar untuk mengakomodasi ukuran badan para turis bule. Sementara itu, dibeberapa sudut telah dipasang beberapa lampu redup untuk membantu para turis menjelajahi terowongan legendaris ini.

Meskipun begitu, pengapnya udara dan harus berjalan merangkak diterowongan kecil bawah tanah tetap saja menghasilkan rasa adrenalin tertentu. Membuat hati saya ciut,antung berdebar seolah jalur ini tidak berujung. Tak henti-hetinya saya berdoa dan berharap segera menyelesaikan jalur bawah tanah ini. Syukurnya, disepanjang jalur terowongan untuk turis sudah disediakan jalan keluar darurat disetiap 10 m. Dari 15 wisatawan yang bersedia masuk ke terowongan untuk menjajal rute singkat para gerilyawan Vietkong, hanya tersisa 2 orang yang berhasil menyelesaikan rute terowongan sepanjang 50 m. selebihnya 13 peserta keluar dari lubang-lubang darurat yang sudah disediakan.

Selain terowongan juga teradapat ruangan bawah tanah yang lebih besar dimana tentara Vietkong menggunakan ruangan tersebut sebagai ruangan pertemuan, kini di bangun kembali persis seperti pada masa perang dahulu.

singkong ala vietcongWisatawan juga bisa mencicipi masakan sederhana yang biasa dimakan oleh para pejuang, yaitu singkong kukus di hidangkan dengan bumbu pelengkap berupa kacang tanah yang telah di haluskan dan dicampur dengan sedikit gula serta garam. Entah singkong dengan bumbu pelengkapnya yang enak atau para turis yang lapar?, tapi yang pasti hidangan sederhana yang telah disajikan itu dalam seketika habis disapu bersih tanpa bersisa.

Di penghujung acara kunjungan kali itu, para turis di ajak menuju lapangan tembak dimana para pengunjung dapat mencoba menggunakan senapan M16 atau AK-47, serta senapan mesin ringan seperti M60 layaknya seperti jaman perang Vietnam. Dengan membayar 1 dolar dapat menjajal 4 peluru untuk ditembakan ke sasaran yang sudah di sediakan.

Tak terasa peluru yang habis juga mengakhiri tur sehari penuh ini, lelahnya bergerilia dan mendengarkan penjelasan panjang mengenai perjuangan tentara Vietcong cukup memberi pengalaman yang tak terlupakan dan bahwa perang bagaimanpun juga meninggalkan luka yang tidak akan terlupakan bagi korban yang selamat atau menjadi saksi hidup.

Koran Tempo, 13 Mei 2012