Upacara Unik Rambut Gimbal

LR.upacara ruwetan

Tanpa sentuhan penata rambut atau salon, beberapa anak di sekitaran wilayah dataran tinggi dieng, memiliki rambut gimbal yang tumbuh alami dikepalanya.

Dieng adalah kawasan dataran tinggi vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah tertinggi yang ada di Jawa Tengah.

Nama Dieng sendiri berasal dari gabungan dua suku kata dari bahasa Kawi yaitu “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna Dewa. Maka tak heran jika wilayah ini dijuluki Negeri Para Dewa.

Selain panorama alam pegunungan dan kawah vulkanik-nya yang indah, masyarakat di wilayah tersebut juga memiliki adat budaya yang unik, yaitu upacara ruwetan rambut gimbal.

Titisan Roro Kidul

Upacara ruwetan rambut gimbal kali ini bertepatan dengan event “Dieng Culture Festival” yang merupakan salah satu sarana promosi visit Jateng 2013. Sudah tidak kaget lagi bagi saya ketika melihat banyaknya wisatawan yang datang memenuhi berbagai sudut kota ini, meskipun acara ruwetan rambut gimbal baru di mulai esok hari tetapi semua home stay sudah tidak dapat lagi menampung tamu, rumah makan penuh, hingga jalananpun sudah tumpah ruah ramai dipadati para pengunjung.

Saya berusaha mencari-cari informasi, mengenai fenomena dan acara Ruwatan Rambut Gimbal tersebut. “Rambut gimbal yang tumbuh pada sebagian anak dataran tinggi dieng merupakan titisan dari Ratu Kidul, dan tidak dapat dipotong sembarangan”, tutur Pak Suryo, pemilik home stay dimana saya menginap. “Tapi, jika para penduduk percaya bahwa anak yang mamiliki rambut gimbal merupakan titisan dari Kanjeng Ratu Kidul,  kenapa rambut gimbal tersebut harus di cukur pak?” Tanya saya penasaran.

“Masyarakat disini masih percaya bahwa rambut gimbal dapat mendatangkan masalah dikemudian hari, sehingga musti harus diruat. Dengan rambut yang normal, maka si anak akan dapat hidup normal dan mendatangkan banyak rezeki”. Lanjut Pak suryo menjelaskan, “upacara ruwetan juga haruslah dari keinginan si anak, biasanya sang anak akan meminta suatu syarat yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Jika sang anak belum mau diruat atau orang tua belum mampu memenuhi syarat yang diminta si anak, maka upacara pemotongan rambut gimbal tidak dapat dilaksanakan. Karena jika dilakukan pemotongan rambut tanpa melalui proses upacara dan tidak memenuhi syarat, maka rambut gimbalnya akan tumbuh kembali”, terang pak Suryo.

Rambut dihanyutkan

LR.golden sunrisePagi buta saya sudah bangun, menyempatkan diri memburu “golden sunrise”, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keindahan matahari terbit di cakrawala dataran tinggi Dieng. Sungguh takjub melihat pemandangan yang saya lihat, tak heran banyak wisatawan yang rela bangun pagi berbondong-bondong menanjak Gn.Cikunir untuk melihat salah satu pesona Dieng.

Setelah turun, perjalanan saya dilanjutkan dengan mengunjungi Danau Telaga Warna yang merupakan danau vulkanik berisi air bercampur belerang. Warnanya dapat berubah-ubah tergantung cuaca dan jarak pandang, sungguh indah melihat gradasi warna biru kehijauan yang dipantulkan sinar matahari saat itu.

Hari semakin menjelang siang, prosesi upacara ruwetan sebentar lagi akan dimulai. Saya pun bergegas melangkah menuju lokasi acara. Tak lama berselang tiba di lokasi, iring-iringan anak rambut gimbal akhirnya datang. Semua orang menyerbu rombongan iring-iringan untuk melihat dan ngambadikan gambar, termasuk saya. Setelah orang tua dan anak-anak rambut gimbal menempati pelataran, upacara ruwetan pemotongan rambut gimbal akhirnya dimulai dengan pembacaan Doa, agar si anak diberikan keselamatan dan kesehatan.

LR.salah satu anak gimbalAda 6 anak yang akan di ruat, permintaan dari masing-masing anak gimbal cukup unik. Masing-masing meminta biskuit & susu, sepeda & 10 telur, ayam jago & bakso, kambing bendot, uang Rp.1000 & Rp.10.000, dan anting-anting emas. Semua permintaan dari anak-anak tersebut di gelar dan dipajang di depan pelataran, satu-persatu rambut anak berambut gimbalpun di potong.

Sisa potongan rambut di larung ke danau telaga warna, siang hari sekitar pukul 2 acara ruwetan akhirnya selesai. Saya punpuas dapat melihat dan mengabadikan prosesi upacara secara yang menjadi warisan tradisi masyarakat Dieng. Semoga tradisi ini dapat diestarikan dan dapat menjadi salah satu kebanggan anak negeri.

CHIC

122.22 Aug-5 Sep 2012